Tentang Aku

Wassalamualikum, Wr.Wb...
Alhamdulillah di kasih kesempatan untuk memperkenalkan blogku kepada semua orang, sebenarnya siapa aku ini sudah bisa dilihat profil, tapi rasanya tidak afdol jika saya sendiri belum berkenalan utuk lebih dekat dengan anda semua. Mega Nurlaela lahir di Jakarta Raya 23 tahun yang lalu sekarang bekerja sebagai karyawan swasta di instansi sekolah di Parungpanjang, Bogor

Rabu, 01 Juli 2015

Far Away

Author : Mega
Title     : Far Away
Genre   : Romance, School
Cast      : - Putri Amalia Agung
               - Raviano Akbar
               - Hendi Pramana
               - dll

Assalamualaikum.Wr.Wb
Dear, kali ini q mau coba buat fiction. Didalam hati pengen buat fanfiction pengen pake nama bias tapi kayanya ga ada salahnya buat yang beda soalnya udah greget sama penasaran pengen nulis cerita yang suka jadi hayalan di kepala,banyak inspirasi dari ff yang pernah q baca tapi mudah-mudahan bukan plagiat/copy ini asli dari kepala q . Banyak tulisan yang typo jadi maaf kalo gak bagus.


                                                                         ******

'kamu tuh gak pantes'

'cewe cupu mimpi pacaran sama idola sekolah?!haha'

'gak mungkin dia bakalan suka kamu putri'

#

"Kakak bangun, kak ia....udah siang" bunda membangunkanku sambil menepuk-nepuk lengan setiap paginya, bukannya malas tapi akhir-akhir ini rasanya enggan berangkat sekolah. "Kak kamu akhir-akhir ini selalu bangun siang?mungkin kalau bunda enggak bangunin,kamu bisa kesiangan terus setiap hari, apa ada masalah?"tanya bunda panjang lebar, "Engga kok bun, gak ada masalah" tampikku 'Iya bun, kalo bisa ga usah ke sekolah lagi' dalam hatiku mengeluh.

Tapi mau bilang bagaimana? aku harapan satu-satunya buat bunda, sebagai single parent bunda berjuang keras bekerja untuk memenuhi kebutuhanku dan isi seluruh rumah, memang kami hidup serba kecukupan dan ayah masih tetap memberikan nafkah setiap bulannya kepada bunda walaupun sudah berpisah. Mereka berpisah saat umurku 13 tahun, walaupun aku tidak secara langsung mengungkapkan kesedihan dan kekecewaan kepada mereka itu karena aku gak mau menambah beban. Tapi komunikasi antara kami bertiga sangat baik dan yang kutahu pasti mereka sangat menyayangiku dan belum untuk memulai hubungan lagi dengan orang lain terutama ayah, beliau sangat memperhatikanku walaupun sangat sibuk dengan pekerjaannya di Jepang masih menyempatkan telepon atau video call setiap minggunya.

#

"Jadi hal-hal yang berhubungan dengan Bioteknologi harus sesuai dengan fungsi yang terjadi antara alam,manusia,dan lingkungan. Ok siapa yang mau bertanya sampai sini?", Sir Erwin bertanya kepada murid dan mereka hanya saling pandang satu sama lain "Ok,saya tau pasti gak ada" jawab Sir Erwin dan "huuu..." di jawab seisi kelas "minggu depan jangan lupa tugas dikumpulkan, dan Putri tolong bawa semua buku ini ke ruang guru" perintah Sir Erwin "Baik sir".

"Oh ya put, gimana nanti test seleksi di Kompetisi Olimpiade kamu sudah siap?" tanya Sir Erwin,sesampainya di ruang guru "Untuk itu masih ada beberapa hal yang belum saya mengerti sir" "Ok gimana kalau kamu cari teman untuk tempat sharing dan bisa untuk tanya jawab, kamu bisa coba dengan peserta lainnya seperti Risma,Wanda,Hendi,atau Ravi itu bisa membantu lho" 'Oh tidak, jangan apalagi Ravi' kataku dalam hati "Tidak Sir, terima kasih"jawabku cepat "Oh gitu...baik kalau begitu bisa diskusi dengan saya saja gimana?"terkejut dengan jawabanku yang menyentak "Ya sir, saya akan kembali ke kelas"ingin cepat keluar ruangan tersebut "Baik,terima kasih ya put". Begitulah percakapan aku dengan Sir Erwin sebagai guru Biologi sekaligus wali kelasku di sekolah.


Beginilah aku, lebih nyaman melakukan segala sesuatu halnya sendiri dan mereka di sekolah menyebutku,entahlah?
Cupu,Kutu buku, anak mamih apapun itu aku tidak peduli aku tidak menyalahkan siapapun apalagi orang tuaku, atau mengira karena perceraian tapi itu semua tidak benar, karena sejak kecil sudah seperti ini, hanya segelintir orang-orang disekitarku yang bertahan lama berteman denganku,ada yang dekat tapi setelah beberapa waktu mereka akan pergi, mungkin mereka menganggapku membosankan.

Tapi ada orang yang harus dijauhi sebelum didekati yaitu Ravi a.k.a Raviano Akbar entah kenapa setiap mendengar nama itu telinga serasa panas, entahlah aku tidak berani berharap, bermimpipun aku tidak ingin mengingatnya.


#Gara-gara pintu Loker

"Eh, Ravi lolos seleksi peserta Olimpiade lho" "wow keren ya,ganteng,pinter, lengkap banget deh" "Calon pacar masa depan tuh"timpal lainnya "Heh,jangan mimpi ya jadi pacar" "Hah,emang kenapa?boleh dong" "Iya,kamu gak tau kalau kedengeran Maya dan cs bisa-bisa kamu di Bully dia itu kan pacarnya" "Itukan katanya,kan cuma gosip belum tentu benar". 'Mereka tidak melihat sifat angkuhnya' kataku dalam hati.

Begitulah samar-samar aku dengar pembicaraan para gadis saat berada jejeran di lemari loker lorong sekolah membicarakan pria bernama Ravi sang idola sekolah, Ketua OSIS, juara kelas, sampai banyaknya juara yang dia dapatkan entah apa saja kompetisinya, aku hanya bersyukur dia tidak berada satu kelas denganku karena satu-satunya kesempatanku untuk jadi juara kelas ,tadinya kenyataannya sejak sir Erwin memasukkan namaku di calon peserta di Olimpiade Biologi mau tidak mau aku harus satu ruangan dalam pelatihan. Sebenarnya aku tidak membecinya, tapi entahlah aku benar-benar tidak mau berurusan dengannya mungkin karena perasaan ini.

Sedangkan 'Maya' yang dibicarakan sebelumnya adalah anak gadis dari ketua Yayasan sekolah ini, dengan kemampuannya itu dia bisa melakukan apapun yang dia mau. Standart berparas cantik 'apa?cantik karena make up' itu yang biasa aku lihat dari jauh. Kaya tentu saja, tapi standar di sekolah ini adalah anak-anak dengan ekonomi menengah keatas tapi karena posisi orang tuanya saja sebagai pejabat di sekolah dan dari situ dia lebih dihormati. Walaupun kami di tingkat yang sama tapi aku selalu menghindar orang-orang seperti itu karena Maya dan kelompoknya selalu mengelilingi Raviano dan cs


Setelah pergantian jam kelas dan aku harus mengambil buku untuk pelajaran selanjutnya, dengan terburu-buru kubuka pintu loker tapi entah kenapa susah sekali di buka padahal kombinasinya benar dan selama tiga tahun ini pertama kalinya pintu ini bermasalah "ayolah terbuka loker!"pekikku dan braakkk...pintu lokernya rusak keluar semua isi lokerku buku,alat tulis dan lain-lain bahkan aku tidak ingat pernah menyimpannya di loker dan buku diari, 'Ternyata ada di sini' dalam hati,tapi aku langsung sadar dan melihat sekitar 'tidak ada orang' karena memang seluruh kelas sudah memulai pelajaran dan "oh tidak" teriakku, aku tahu sudah terlambat masuk kelas langsung saja aku memasukkan semua isi loker yang sudah keluar tanpa membereskannya lagi, menutup pintu lokernya, dan langsung berlari menuju kelas.


Lelah, bersyukur melewati hari ini dengan normal. Setelah semua jam pelajaran berakhir, membereskan meja dan tas untuk menuju loker untuk menaruh buku-buku setelah itu pulang dan melakukan hal-hal lebih leluasa di rumah.

Saat menuju loker aku melihat dari jauh ramai anak-anak lain berkumpul, sebenannya ini hal biasa karena sudah waktunya jam pulang. Tapi kali ini tidak, di mulai dari anak yang berada jauh dari kumpulan berbisik-bisik saatku meliriknya mereka sedang melihat kearahku dan yang lain tidak berbisik tapi melihatku dengan tatapan aneh 'Sebenarnya apa yang terjadi' kataku dalam hati terheran, saat tidak jauh menuju loker dan kumpulan anak-anak sekolah semakin terlihat dan tepat di depan lemari lokerku, dan perasaanku mulai tidak enak 'ada yang tidak beres' pikirku.

"Hei, itu si Cupu" salah satu berteriak, dan semua yang berkumpul langsung melihat dan menyingkir membuka jalan langsung aku ingat seperti cerita seperti Nabi Musa yang membelah lautan tapi di ujung memperlihatkan sosok murid wanita, tapi perhatianku langsung menuju barang-barang isi lemari lokerku berserakan 'buku-bukuku' terkejut.

Aku langsung berlari untuk cepat memberesakannya, walaupun mereka semua membicarakanku tapi hanya satu hal yang ingin aku sembunyikan "Kamu mencari ini?" ada yang berbicara tapi, semuanya samar rasanya apa yang mereka katakan hanya sebatas dengungan di telingaku. Malu, marah, itu yang sedang kualami "Hey, kamu kutu buku!" 'sial' pekikku dalam hati, saat kumelihat kearahnya seperti ada petir menyambar kepala sampai ujung kuku 'buku diariku, bagaimana bisa??' air mata ini seperti mau keluar "Ini buku diari kamu kan,lalu apa ini?wah..ada surat cinta juga?" "Kembalikan" kataku "Hei semua yang ada disini,kalian mau dengar apa isinya??" teriaknya 'apa??tidak,jangan!'


#Surat Pinkku

aku hanya menatap lurus saat mereka menguras semua kata-kata dari dalam buku diariku, sendirian dan malu ya sangat! Sangat mengangkap wajah untuk melihat apa yang mereka lakukan dan aku melihat sosoknya tepat di belakang, entah kenapa sosoknya sangat menonjol disaat seperti ini dan sedang menatapku tajam "Ada apa ini?"teriaknya, 'tidak,kenapa dia harus melihatku seperti ini' dalam hati sambil berkaca-kaca, dan tubuh ini tidak segera beranjak dari tempat berdiriku.


Aku harap ini mimpi dan bunda membangungkan aku segera seperti biasanya, tapi tidak "Ada apa ini?" 'tidak, kenapa dia harus melihatku seperti ini' 'apa dia mendengarnya?sejak kapan dia ada disana?' "Oh, Ravi kamu sudah dengarkan yang aku baca, di buku ini dia menulis semua tentangmu dan ini surat untukmu. Dia pikir siapa?berani sekali" timpalnya dengan wajah mencemoohku

"Kamu tuh gak pantes" yang lainnya berbicara

"cewe cupu mimpi pacaran sama idola sekolah?!haha" yang lainnya meledek dan semua tertawa bersama-sama, aku yakin mereka satu kelompok

'Kumohon hentikan' mohonku dalam hati "Sudah hentikan Maya" dia mengatakan kepada maya sambil melirikku tajam. "Kamu lihat ini, lucu sekali kan dia ingin memberikanmu surat cinta Rav kekanakkan sekali" sambil menyerahkan surat berwarna pinkku ke tangan Ravi, membacanya singkat sangat!bahkan dia terlihat kesal.

Aku menatap wajah Raviano yang sedang melihat surat pinkku tapi sangat singkat, wajahnya terlihat kesal menatapku singkat langsung beralih kembali menatap Maya "Kamu tahu, ini bisa jadi masalah kalau guru tahu" ungkapnya "Kamu membelanya Rav?Kamu adalah kekasihku!" bela Maya "May..." sambil berbisik "Katakan dengan kencang Rav kalau kamu tidak suka sama dia, kalau kamu membelanya didepan semua yang ada di sini mereka mengira kamu memang menyukainya" katanya pelan tapi aku masih bisa mendengarnya dari tempatku berdiri "Aku tidak akan mengatakan apa-apa" belanya tegas tetap berbicara saling berbisik. "Rav guru sebentar lagi datang" yang aku yakin bernama Hendi sahabat Raviano menyakinkan, dan Maya langsung bereaksi "Katakan Ravi, Apa kamu pernah mengenal si cupu ini?"


#

*Raviano

Entah apa yang terjadi, kalau bukan karena gadis ini aku tidak akan berurusan dengan masalah seperti ini dan aku harus mengikuti keinginan Maya "Tidak, tidak pernah" kataku, sambil melihat kearah gadis yang sedang menunduk malu dan dia menangis, "Apa kamu menyukainya?" kata Maya 'apa? kenapa dia menanyakan hal konyol begitu' kesalku dalam hati, tidak! aku harus segera menyelesaikan masalah ini atau guru akan datang dan ini akan berlarut-larut, aku tidak ingin melakukan hal-hal seperti ini "Aku tidak mengenalnya, dan aku tidak menyukainya tidak pernah!dan aku tidak pernah ingin berususan dengannya lagi" sambil menatapnya untuk menyakinkan kearah gadis ini untuk tidak menyebabkan masalah lagi denganku, tapi saat dia menatapku memancarkan hal yang menyakitkan.


Wajahnya menjelaskan kesakitan dalam, air matanya jatuh saat melihatku yang sebelumnya tertunduk setelah melihatku, 'apa aku keterlaluan?' pikirku lagi, "Kau sudah puas Maya?" tegasku kepada wanita medusa ini "Tentu saja sayang, Kalian semua dengar itu!ayo kita pergi...dan kamu, ini belum selesai ya" dan aku menatap meyakinkan bahwa ini sudah cukup "Apa?Ok-ok" bela Maya, "Yang lain semua bubar sebelum guru datang" Hendi memperingatkan anak-anak yang lain, untuk terakhir kalinya aku melirik gadis itu masih dengan posisinya langsung beringsut jongkok sambil memungut barang-barangnya yang berserakan.


#


"Kamu gak apa-apa?" tanya Hendi ke Putri sambil membantu membereskan buku-buku "Sudahlah, aku bisa sendiri terima kasih" cegah putri dan langsung pergi meninggalkan Hendi yang masih memperhatikan punggung gadis itu sampai tak terlihat lagi "Maaf.." katanya pelan.


Di sebuah taman belakang sekolah sudah berkumpul beberapa siswa yang masih berada belum beranjak pulang, karena suasana teduh karena banyak pohon rindang dan banyaknya tanaman bunga yang indah terawat berbaringlah sesosok pria tampan dengan buku menutupi wajah tanpa buku akan sangat terlihat jelas yang sebelumnnya jadi pembicaraan di siang tadi, maka akan menjadi lebih banyak yang menyebut namanya.

Tidak lama datang seorang pria dan duduk di sebelah yang sedang berbaring "Aku tahu kamu tidak tidur Rav" katanya sambil menyenggol tangan si pria satunya, yang merasa terganggu "Apa lagi Hen..?" "Kamu sedikit keterlaluan tadi" balas Hendi "Apannya??Aku gak ngerti maksud kamu, aku ingin tidur sebentar lalu kita pulang" jawab Ravi mengalihkan pembicaraan "Kamu tahu maksudku, kenapa kamu nurutin omongan Maya...kamu tidak lihat gadis itu, pasti sangat terluka apa lagi didepan seluruh sekolah" jelasnya, langsung Ravi merubah posisi tubuhnya jadi duduk "Aku gak mau ikut masuk kedalam hal-hal bodoh, aku ingin cepat menyelesaikannya!" jelasnya dengan kesal







tbc


























Tidak ada komentar:

Posting Komentar